Liputan Jurnal Maulid Nabi Muhammad SAW GEORGE 8B 20

 

Liputan Jurnal Maulid Nabi Muhammad SAW

Hari/Tanggal: Jumat 19 September 2025
Tempat: … Hallma SMP Labschool Jakarta
Narasumber: Ustadz Dimas Adista


Latar Belakang

Setiap tanggal 12 Rabiul Awal, umat Islam di seluruh penjuru dunia memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW. Peringatan ini dikenal dengan sebutan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang bukan hanya sekadar acara seremonial, tetapi juga menjadi momentum penting untuk memperkuat cinta umat kepada Rasulullah, meneladani akhlaknya, dan menghidupkan sunnah beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Di Indonesia, peringatan Maulid Nabi selalu menjadi acara yang penuh makna. Masjid, sekolah, pesantren, hingga lingkungan masyarakat ramai menggelar acara dengan nuansa syukur, doa, shalawat, dan tausiyah. Maulid bukan sekadar mengenang kelahiran seorang Nabi, tetapi lebih dari itu: ia menjadi pengingat bahwa Allah SWT telah mengutus Rasulullah sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).

Jumat kemarin, di … (tulis lokasi, misalnya Masjid Jami Al-Ikhlas atau Aula SMP …), acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW berlangsung dengan penuh khidmat. Jamaah dari berbagai kalangan hadir, mulai dari siswa, guru, tokoh masyarakat, hingga warga sekitar. Yang istimewa, acara ini menghadirkan Ustadz Dimas Adista sebagai narasumber utama.

Kehadiran beliau memberikan warna tersendiri. Dengan gaya ceramah yang lugas, menyentuh hati, dan penuh semangat, Ustadz Dimas mampu membawa jamaah untuk lebih dekat mengenal Rasulullah SAW, bukan hanya dari sisi sejarah, tetapi juga dari teladan akhlak beliau.


Jalannya Acara

Acara Maulid dimulai setelah salat Jumat berjamaah. Para jamaah sudah berkumpul dengan tertib, memenuhi ruangan. Suasana religius begitu terasa, dihiasi dengan kaligrafi, hiasan lampu sederhana, serta wewangian yang menenangkan hati. Panitia menyiapkan acara dengan penuh semangat, dibuka dengan salam oleh pembawa acara.

  1. Pembukaan
    Acara diawali dengan ucapan salam dan doa bersama. MC menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
  2. Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an
    Seorang qari membacakan ayat suci Al-Qur’an dari Surah Al-Ahzab ayat 21 yang berisi tentang Rasulullah sebagai teladan terbaik. Suara merdu qari membuat suasana hening penuh kekhusyukan.
  3. Shalawat Bersama
    Setelah itu, seluruh jamaah melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Suara shalawat menggema, menciptakan suasana haru. Sebagian jamaah menitikkan air mata, membayangkan betapa besar cinta Rasulullah kepada umatnya.
  4. Sambutan Panitia
    Ketua panitia menyampaikan sambutan singkat. Beliau menekankan bahwa Maulid adalah momentum untuk memperbarui tekad meneladani Rasulullah, memperkuat persaudaraan, dan mempererat silaturahmi antarumat.
  5. Tausiyah Ustadz Dimas Adista
    Puncak acara adalah ceramah dari narasumber, Ustadz Dimas Adista. Beliau memulai tausiyah dengan salam penuh kehangatan, lalu membacakan shalawat, sebelum masuk pada materi utama: kisah perjuangan dan akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai teladan umat sepanjang zaman.

Isi Tausiyah

Dalam tausiyahnya, Ustadz Dimas Adista mengisahkan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW dengan penuh makna. Beliau tidak hanya menyampaikan fakta sejarah, tetapi juga mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari jamaah. Berikut inti dari ceramah beliau:

1. Masa Kecil Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad lahir dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah, wafat sebelum beliau lahir, dan ibunya, Aminah, wafat saat beliau masih kecil. Rasulullah tumbuh dalam asuhan kakeknya, Abdul Muthalib, lalu pamannya, Abu Thalib. Meski sejak kecil hidup sederhana, Nabi Muhammad tumbuh sebagai anak yang jujur, sopan, dan amanah.

“Sejak kecil, Allah mendidik Rasulullah dengan ujian, agar beliau menjadi manusia yang kuat, sabar, dan penuh kasih sayang. Itulah yang harus kita teladani,” ujar Ustadz Dimas.

2. Julukan Al-Amin

Saat remaja, Nabi Muhammad dikenal dengan julukan Al-Amin (orang yang terpercaya). Beliau berdagang dengan penuh kejujuran, tidak pernah menipu, dan selalu menepati janji. Sifat inilah yang membuat masyarakat Quraisy sangat mempercayainya.

Ustadz Dimas mengaitkan hal ini dengan kehidupan sehari-hari: “Kalau Rasulullah bisa jujur dalam berdagang, maka kita sebagai pelajar harus jujur dalam belajar, sebagai pekerja harus amanah dalam tugas, dan sebagai pemimpin harus adil kepada rakyatnya.”

3. Turunnya Wahyu Pertama

Di usia 40 tahun, Rasulullah menerima wahyu pertama di Gua Hira melalui malaikat Jibril. Peristiwa ini menjadi titik awal beliau diangkat menjadi Rasul. Ustadz Dimas menekankan betapa berat tanggung jawab yang dipikul Nabi, namun beliau tetap tegar karena yakin bahwa Allah selalu bersamanya.

4. Perjuangan dalam Dakwah

Rasulullah menghadapi banyak ujian dalam berdakwah. Kaum Quraisy mencaci, menghina, bahkan menyiksa pengikut beliau. Namun, Rasulullah tidak pernah membalas dengan kebencian. Beliau tetap mendoakan kaumnya agar mendapat hidayah.

Ustadz Dimas mengisahkan dengan penuh haru: “Saat Rasulullah dilempari batu di Thaif hingga berdarah, malaikat menawarkan untuk membalikkan gunung menimpa kaum itu. Tapi Rasulullah menolak. Beliau justru berdoa: Ya Allah, berilah mereka hidayah, karena mereka tidak tahu.”

5. Teladan dalam Peperangan

Rasulullah juga pernah memimpin pasukan dalam peperangan, seperti Badar, Uhud, dan Khandaq. Namun, beliau tidak pernah memulai perang, melainkan hanya membela diri dan melindungi umat Islam dari kezaliman.

Dalam Fathu Makkah, ketika beliau berhasil menaklukkan kota Mekah, bukannya membalas dendam, Rasulullah justru memaafkan musuh-musuhnya. Inilah bukti bahwa akhlak Rasulullah jauh lebih tinggi dari sekadar kemenangan dunia.

6. Cinta Rasulullah kepada Umat

Yang paling menyentuh, Ustadz Dimas menceritakan betapa besar cinta Rasulullah kepada umatnya. Bahkan menjelang wafatnya, Rasulullah masih mengucapkan, “Ummati, ummati, ummati” — umatku, umatku, umatku.

Ustadz Dimas menegaskan: “Kalau Rasulullah begitu mencintai kita, maka sudah seharusnya kita mencintai beliau dengan memperbanyak shalawat, menjalankan sunnah, dan meneladani akhlaknya.”


Suasana dan Antusiasme

Selama tausiyah berlangsung, jamaah tampak sangat antusias. Anak-anak duduk tertib di depan, para remaja mencatat isi ceramah, sementara orang tua larut dalam haru. Beberapa jamaah bahkan meneteskan air mata ketika mendengar kisah Rasulullah yang penuh pengorbanan.

Suasana semakin syahdu ketika Ustadz Dimas memimpin pembacaan shalawat di akhir ceramah. Jamaah bersama-sama melantunkan shalawat dengan suara lembut, menciptakan suasana seolah hati mereka benar-benar dipenuhi kerinduan kepada Nabi Muhammad SAW.

Komentar Narasumber Tambahan

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Guru & Blogger Informatika Labschool Jakarta)

Dalam kesempatan wawancara singkat seusai acara, Om Jay menyampaikan apresiasinya terhadap tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Dimas Adista.

“Peringatan Maulid Nabi ini sangat penting bagi siswa-siswi kita. Kehadiran Ustadz Dimas mampu membawa suasana yang khidmat sekaligus penuh pelajaran berharga. Saya melihat anak-anak begitu antusias mendengar kisah Nabi Muhammad SAW. Bagi saya, ini bukan hanya soal mengenang sejarah, tetapi juga mengajarkan bagaimana teknologi dan pengetahuan kita hari ini tetap harus berpijak pada akhlak mulia Rasulullah. Sebagai guru Informatika, saya ingin anak-anak bukan hanya cerdas secara digital, tetapi juga bijak dan berakhlak mulia.”

Om Jay menekankan bahwa kisah Nabi Muhammad bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya di era digital yang penuh tantangan. Menurut beliau, nilai kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang harus tetap menjadi dasar dalam menggunakan teknologi.


Dr. Yati Suwartini, M.Pd. (Kepala Sekolah SMP Labschool Jakarta)

Kepala Sekolah, Ibu Dr. Yati Suwartini, M.Pd., juga memberikan tanggapan positif mengenai acara Maulid Nabi kali ini.

“Kami sangat bersyukur acara Maulid Nabi berjalan lancar dengan menghadirkan Ustadz Dimas Adista sebagai narasumber. Tausiyah beliau sangat relevan, tidak hanya menceritakan perjalanan hidup Rasulullah, tetapi juga memberi pesan moral yang bisa dipraktikkan oleh siswa di sekolah dan masyarakat. Saya melihat banyak siswa yang terinspirasi untuk lebih rajin beribadah, bersikap jujur, dan hormat kepada guru maupun orang tua.”

Beliau menambahkan bahwa acara Maulid Nabi bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga bagian dari pendidikan karakter di Labschool Jakarta.

“Kami ingin anak-anak meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah adalah role model terbaik. Jika nilai-nilai ini kita tanamkan sejak dini, Insya Allah mereka akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, beretika, dan siap menghadapi tantangan masa depan.”



Kesimpulan

Acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Jumat kemarin benar-benar memberikan kesan mendalam bagi seluruh jamaah. Kehadiran Ustadz Dimas Adista sebagai narasumber menghadirkan kisah-kisah inspiratif tentang Rasulullah yang relevan dengan kehidupan masa kini.

Dari kisah masa kecil Rasulullah, jamaah belajar tentang kesabaran menghadapi ujian. Dari sifat Al-Amin, jamaah diingatkan pentingnya kejujuran. Dari dakwah Rasulullah, jamaah belajar tentang kesabaran dan keteguhan hati. Dari sikap beliau dalam peperangan, jamaah melihat contoh kepemimpinan yang penuh kasih sayang. Dan dari cinta Rasulullah kepada umatnya, jamaah semakin terdorong untuk memperbanyak shalawat serta meneladani akhlak beliau.

Dengan peringatan ini, diharapkan umat Islam semakin dekat kepada Allah SWT melalui kecintaan kepada Rasulullah SAW. Semoga kita semua mampu meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari, sehingga benar-benar menjadi umat yang dirindukan Rasulullah kelak di akhirat.

 

Comments

Popular posts from this blog

100 SOAL PALING ENAK DIJAWAB INFORMATIKA KELAS 8

BAB 2: Membuat Kuis Interaktif dengan Scratch

Pembelajaran Coding dan AI di SMP Labschool Jakarta Menyiapkan Generasi Digital yang Kreatif, Kritis, dan Beretika di Era 5.0